Selamat Datang di anwarmuzacky Blogs

Sabtu, 03 Maret 2012

Meneladani Rosulullah dalam Mencintai Allah

Syahdan Mughirah bin Syu’bah seorang sahabat nabi bercerita tentang keadaan nabi SAW. Dalam menjalani amalan shalatnya.Karena begitu seringnya beliau ruku dan sujud,tumit Nabi dilihat Mughirah sampai bengkak-bengkak.Hal ini tentu saja membuat para sahabat heran.Mengapa makhluk paling mulia itu sampai begitu “ngototnya” dalam beribadah.Bukankah Allah telah menjamin Surga bagi ayah Fatimah Az-Zahra itu.
 
Dan jawaban Nabi yang termuat dalam shahih Bukhori sangatlah menyentuh.”Bukankah aku harus menjadi hamba yang bersyukur?” Demikianlah setelah beliau mendapatkan kemuliaandan ridho-Nya,ibadah tak menjadi putus karenanya.Nabi memuarakan ibadahnya yang dilakukan dalam intensitas tinggi itu sebagai wujud syukur,rasa terimakasih yang tulus pada Sang Khalik yang menyayanginya.Pekataan sahabat Anas bin Malik menguatkan hal ini.”Apabila engkau ingin mendapati Nabi tidak beribadah dimalam hari,sungguh engkau tidak akan mendapatinya karena beliau selalu beribadah dimalam hari.
Abdullah bin Syankir suatu hari pernah bertamu ke rumah Nabi dan mendapti Nabi sedang shalat.Terdengar oleh Abdullah Nabi terisak.” isakan itu keluar dari dadanya menyerupai gemuruh air mendidih di dalam ketel.” ujar Abdullah melukiskan tangis Nabi itu.Nabi tak sedang bersedih atau tengah menghadapi masalah besar yang tak kuasa dipecahkannya.Nabi menangis karena hatinya terhubung dalam ikatan yang suci dengan Allah,Tuhan yang dicintainya.Itulah luapan rasa haru rindu seorang hamba kepada Rabbnya,seorang kekasih kepadaa Kekasih hatinya.Tak hanya itu sekalipun terpelihara dari kesalahan (maksum),Nabi tak pernah melupakan satu detikpun untuk memohon ampun kepada Allah SWT.Bahkan beliau memohon ampun sampai 70 kali dalam sehari,riwayat lain mengatakan,Nabi memohon ampun sampai 100 kali dalam sehari.
Tak heran jika Nabi sendiri selain bergelar Al-Amin juga masyhur dengan sebutan Habibullah,kekasih Allah.Nabi sendiri menegaskan hal ini dalam sabdanya yang dicatat At-Tarmizi saat beliau menanggapi diskusi dimajlis para sahabat mengenai kemuliaan para rasul terdahulu.”Keadaan Ibrahim sebagai karib Allahsebagaimana yang kalian utarakan adalah benar adanya.Begitu pula Musa sebagai karib yang dekat dengan-Nya adalah benar adanya.Demikian pula keberadaan Isa sebagai Kalimatullah dan Ruhullah memang begitulah keberadaanya.Sedang aku sendiri adalah Habibullah Kekasih Allahini bukanlah kesombongan.Akulah yang membawa bendera kemuliaan pada hari kiamat.Akulah manusia pertama yang menjadi pembela dan manusi pertama yang dikabulkan syafaatnya.Dan ini sungguh bukanlah kesombongan.Akulah manusia pertama yang mengetuk pintu surga dan Allah lah yang membukakannya pertama kali untukku dan mempersilakan aku memasukinya bersama orang-orang fakir diantara kamu.Akulah orang yang paling dimuliakan di zaman awal dan zaman ahir dan sungguh ini bukanlah kesombongan.
Uraian Nabi ini adalah sebuah pernyataan terkemudian.Pernyataan lewat perbuatan yang sudah lebih dulu beliau tunjukan kepada para sahabat melalui amal sehari-hari yang dipenuhi pengagungan dan pengorbanan besar kepada-Nya.Demi cintanya itu tak jarang Nabi mesti berhadapan dengan maut.Husein Haekal yang menghabiskan banyak waktunya meneliti sirah Nabi menyimpulkan hal ini.”Karenanyalah para sahabat langsung mafhum dan membenarkan pernyataan itu di bagian terdalam hati mereka” ujarnya.Meneladani kecintaan Nabi pada Allah adalah meneladani kecintaan yang bersih dan tanpa pretense.dipenuhi rasa syukur dan rindu yang dalam.Wallohu a’lam bishshowab