Selamat Datang di anwarmuzacky Blogs

Rabu, 11 April 2012

Malam Pertama di Puncak Bogor


Malampun semakin larut,hembusan anngin malam terasa seperti menusuk-nusuk tulangku.Ini memang malam pertamaku di puncak Bogor.Karena libur panjang aku putuskan untuk berkunjung ke fila pamanku ini.Menikmati udara puncak yang masih segar yang tak pernah aku temukan di kota Jakarta kota dimana aku tinggal dan dibesarkan disana.Radit adalah namaku yang diberikan kedua orang tuaku ketika aku lahir 16 tahun yang lalu.Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara.Adiku Nita 3 tahun lebih muda dari usiaku saat ini.Dia masih duduk di kelas 2 SMP sedangkan aku kelas 2 di sebuah SMA ternama di Jakarta.
                Ternyata perjalananku tadi siang cukup melelahkan,meski sempat terhibur dengan panorama indah disepanjang jalan menuju puncak,tapi badanku masih terasa pegal.Mungkin karena sempat macet berjam-jam juga disana.”ah…Lebih baik aku hilangkan rasa lelah ini dengan berendam menggunakan air hangat” pikirku.Ku buka seluruh pakaian yang ku kenakan dan mengambil handuk yang kubawa di tas ranselku.Bath tub telah terisi air hangat saatnya melepas lelah dengan berendam sambil  ku putar music kesukaanku.Semua rasa lelah seperti tertinggal di rendaman air hangat tadi.Terasa ada sesuatu yang aneh di kamar mandi ini,tapi sengaja tak ku hiraukan.Aku segera meraih handuk dan kubelitkan di pinggangku.Setelah selesai ganti baju kulangkahkan kakiku ke kamar Nita adik perempuan kesayanganku.
                Jam menunjukan pukul 11:30 malam dan aku lihat Nita sudah tertidur pulas tak seperti waktu di rumah mungkin karena kelelahan juga.Aku tak tega membangunkannya,meski sebenarnya aku butuh teman ngobrol sebelum aku pergi untuk tidur.Aku tutup kembali kamar Nita dan aku sandarkan tubuhku di depan pintu kamarnya.Tapi tiba-tiba ada perasaan takut,dibarengi dengan berdirinya bulu kudukku saat hembusan angin menyapaku dari lorong gelap di samping kamar mandi.Segera ku ayunkan langkahku dengan cepat menuju kamarku,ku tarik selimut dari ujung kaki ke ujung kepala.
                Perasaan itu kembali muncul,seperti ada mata yang mengawasiku  dari balik jendela kamarku.Apalagi angin malam semakin dingin,makin menambah Susana horror saja.Aku pejamkan erat-erat kedua mataku,mencoba menghilangkan aura negative yang semakin terasa.”Sialan mala mini terasa begitu lama” celetukku dalam hati.Dan entah mengapa selimutku terasa menjadi pendek,hingga saat aku tarik ke arah muka  kakiku jadi tak berselimut begitu juga sebaliknya.Sementaara itu detak jam dinding terdengar begitu jelas seperti bersautan dengan detak jantungku yang semakin cepat.Darahku berdesir ketika aku merasakan kakiku begitu dingin,seperti ada bongkahan es disana.
                Selimutku tersingkap,kembali aku dikejutkan dengan sosok pria bertubuh hitam legam,besar serta tinggi tepat berada di atas mukaku.Aku menjerit ketakutan tapi sedikitpun suara tak bisa kuucapkan.Mungkin sosok inilah yang disebut Gendurwo atau apalah,aku tak pedulikan saat itu.Seketika tubuhku kaku tak bisa berbuat apa-apa.Mulutpun terasa seperti terkunci untuk meneriakkan kata tolong.Nafasku benar-benar sesak dibuat mahluk halus hitam ini.Tapi perjuangan belum berahir aku coba membaca ayat Al-Qur-an yang aku bisa,dan mencoba menggerakkan tubuhku untuk bangun dan lari dari tempat tidurku.Usahaku belum berhasil,mahluk hitam ini terlalu kuat untukku.Hingga aku pasrah kepada Allah,mungkin ini adalah ahir hidupku,pikirku dalam hati.Aku membaca ta’awudz sekali lagi sebanyak yang bisa aku lakukan dan ternyata usahaku berhasil untuk menyingkirkan mahluk keparat itu.

To Be Continued